CERPEN
"TENTANG RASA"
Saya adalah seorang gadis biasa yang tidak tenar dan banyak dikenal orang, saya seorang gadis yang sangat tertutup tidak banyak bicara dan hanya masuk kedalam dunianya sendiri, ya itulah saya Naya Adrina Silla. Saya hanyalah seorang murid pindahan dari Bandung yang masuk ke sekolah SMA Garuda yang sangat asing sekali bagi saya, karena disini tak ada satu orang pun yang saya kenal. Di sekolah sini saya merasa terasingkan karna sikap saya pula yang tertutup sehingga tidak membiarkan seseorang masuk kedalam dunia saya, karena dari situ saya dapat melihat seorang teman apakah dia tulus berteman dengan saya atau tidak. Saya adalah si penghuni bangku pojok belakang yang asik dengan dunianya sendiri, hingga tak sadar bahwa ada seseorang yang memerhatikan saya dan sesekali terlihat memberi senyuman dan saya pun membalasnya lalu mendukkan kepala dan saya merasa ada yang menepuk pundak saya,
“Hallo, perkenalkan saya Nila Ayusita Putri dan ini teman saya Adellia Putri, salam kenal.” menjulurkan tangannya kepada saya, lalu saya pun membalasnya. Dan dari situ saya merasakan ada perasaan yang beda, entah mengapa hati ini berbicara bahwa mereka itu orang baik dan tulus berteman dengan saya.
Beberapa bulan setelah saya pindah saya telah mendapatkan dua orang teman baru yaitu Naya dan Adel, mereka adalah teman pertama saya setelah Arjun. Saya menceritakan tentang masa lalu saya kepada mereka, “ Arjun teman lama saya yang telah lama meninggal karena mengidap penyakit kanker darah, pada saat itu saya sangat terpukul atas kepergiannya karna dia adalah teman saya satu-satunya. Beberapa tahun kemudian bunda pergi menyusul Arjun, pada hari itu juga hati saya sangat hancur karna saya telah kehilangan orang yang paling saya cintai dan saya masih membutuhkan sandaran ketika saya jatuh. Sang mentari takkan lagi bersinar terang karna sebagiannya telah hilang, hilang untuk selama-lamanya. Yang saya punya tinggallah bang Arsen dan ayah, namun keduanya sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tak ada waktu untuk saya hanya sekedar bersandar. Sekarang rumah hanya tempat untuk sekedar mampir tak untuk tinggal, semua tinggal kenangan dan akhirnya tinggallah saya seorang diri. “ ,kataku tak terasa air mata pun menetes. Dan merekalah yang hanya mengetahui masa laluku yang kelam, dan merekalah yang menguatkan ku setelah sekian lama ku membutuhkan sandaran akhirnya aku menemukannya.
“Kita akan selalu ada disaat kamu dalam keadaan susah, sedih ataupun senang karna kita tulus menjadi sahabatmu.”, ujar Nila. Aku tersenyum pilu dan Adel pun berkata, “Kamu pun bisa menganggap bunda kami seperti bundamu, kami akan selalu menerimamu kapan pun kamu membutuhkan sandaran.”, dan aku menangis sejadi-jadinya karna baru ada orang yang sangat perhatian terhadapku setelah kepergian bunda.
Pada bulan oktober, SMA Garuda mengadakan bazar makanan dari setiap kelasnya berbagai macam makanan tersedia saya pun berkeliling dengan Nila dan Adel melihat-lihat makanan yang dijual disetiap standnya. Sudah puas berkeliling kami pun bergantian untuk menjaga stand kelas, tak lama itu ada yang berkunjung lalu bertanya makanah apa yang kami jual dan Nila mengeluarkan kata-kata yang dapat memikat hati pembeli. Namun saya merasa aneh pada seseorang diantara mereka seperti sedang memerhatikan saya, tapi saya tepis jauh-jauh itu mungkin hanya perasaan saya saja. Bel pun berbunyi tanda waktu untuk pulang, murid-murid keluar seperti bulu yang berhamburan. Setibanya dirumah, saya membuka ponsel dan melihat ada notifikasi dari nomor yang tidak dikenal lalu saya menanyakan kepada Nila dan Adel mereka pun tidak tahu itu siapa, saya pun menjadi agak gelisah sekaligus penasaran siapakah orang tersebut dan tak lama kemudian Adel memberitahu bahwa itu adalah Raffi. Saya pun penasaran siapakah Raffi tersebut, saya mencari ke akun sosial medianya setelah saya lihat nampaknya tidak asing wajahnya dan setelah saya ingat-ingat ternyata itu lelaki dibazar tadi yang memperhatikan saya. Dan saya coba memastikan dengan membalas, “Siapakah ini?’’, kataku lalu tak berapa lama muncul balasan, “ Perkenalkan saya Raffi Adam Kahfillah dari 11 Mipa 1”, katanya. Hari demi hari kami sering berkomunikasi dan menjadi akrab lalu munculah perasaan suka itu, namun keduanya enggan untuk mengakuinya. Awalnya saya tak memberitahu dulu kepasa Nila dan Adel karna saya malu menceritakannya, hingga saya tak tersadar bahwa saya telah keluar dari masa keterpurukan yang selau muncul dikala saya sendiri. Ingin saya menceritakan semuanya kepada Ayah dan bang Arsen namun setiap kali saya ingin berbincang ada saja halangannya sehingga membuat jarak diantara kami jauh. Saya benci dalam keadaan seperti ini, pernah saya berfikir untuk menyusul bunda karna disini saya pun tak dibutuhkan, tak diperhatikan saya merasa seperti patung hidup yang selalu diam tak melakukan apa-apa dan hanya disekolahlah saya dapat menghilangkan semua masalah yang ada. Dan pada saat itu Raffi menyatakan perasaannya terhadap saya dan saya pun juga mengungkapkan tentang isi hati saya, tapi kami tidak berpacaran hanya saja mengungkapkan perasaan masing-masing. Hari demi hari terasa menyenangkan karna saya telah jatuh cinta yang kedua kalinya dan bisa dibilang ini adalah cinta pertama saya, karna saya merasakan hal yang sangat indah dari pada sebelumnya. Bang Arsen nampak merasa ada yang aneh dari diri saya karna belakangan ini saya sering tersenyum-senyum sendiri dengan memegang handphone, dan dia mulai bertanya kepada saya,”Nay apakah kamu baik-baik saja?”,katanya.
Lalu aku menjawab,” Memangnya kenapa bang ada yang salah dari Naya?”.
Lalu bang Arsen pun menjawabnya,” Iya, akhir-akhir ini abang melihat kamu berbeda lebih sering terlihat senyum dibandingkan dulu yang selalu diam seperti patung berjalan, ada apakah denganmu Nay apakah kamu merasakan jatuh cinta?” tanya bang Arsen kepadaku.
Aku hanya tersenyum sambil menjawab,” ya seperti itulah, bang.” kataku langsung berlari ke dalam kamar. Hari demi hari terlewati begitu saja, akhir-akhir ini dia tiba-tiba menghilang tak ada kabar. Rasa cemas dan kekhawatiran itu ada namun ku tepis jauh-jauh, namun sudah seminggu tak ada kabar dan saya memberanikan diri untuk memulai percakapan menggunakan via whatssap.
“Bagaimana dengan keadaanmu? Sudah lama tak ada kabar”, kataku. Setelah satu jam baru ada pesan masuk, dia pun membalasnya,”Kabarku baik, bagaimana kabarmu?” tanya nya padaku. Tetapi, lama-kelamaan rasanya seperti ada yang berbeda dia seperti mulai menjauhi saya walaupun dia tidak bersikap cuek tapi saya bisa merasakannya.
Akhirnya, saya memilih untuk pergi tapi rasanya sulit ketika dia datang saya selalu menerimanya lagi dan itu pergi lagi siklusnya selalu sama dan hingga akhirnya saya berhenti di titik lelah saya, saya lelah seperti orang bodoh yang mengharapkan cintanya. Benar kata orang cinta itu bisa membutakan segalanya antara setia dan bodoh itu hanya beda tipis. Ketika saya pergi dia datang dengan beralasan penyesalan, ya penyesalan itu selalu datang diakhir karena jika diawal itu namanya permulaan. Saya yakin pergi adalah keputusa yang terbaik walaupun menyakitkan tapi tak apa yang penting saya terbebas dari rasa yang selalu membuat saya gelisah, namun saya beruntung mempunyai kisah seperti itu karenanya saya bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah ini dimulai dari perjuangan, kesabaran, kesetiaan dan belajar untuk mengikhlaskan yang tak harus menjadi milik kita. Jujur saja dia adalah cinta pertama saya, saya kira cinta pertama itu selalu berakhir indah tapi yang saya alami tidak. Rasa kecewa itu ada tetapi saya tidak pernah menyesal menegalaminya karna banyak sekali pelajaran saya yang ambil. Dan dibelakang saya selalu ada sahabat yang mendukung dan menyemangati saya disetiap perjalanan hidup dari yang bahagia hingga keterpurukan. Namun, setelah lama tam berkomunikasi saya menjadi jauh dengannya saya tidak berani menatapnya karena jika melihatnya saya merasakan luka yang dulu ada, saya berusaha agar tidak seperti ini tetapi sangat susah bagi saya melakukannya seperti ada penolakkan secara alamiah dari tubuh.
Banyak sekali pelajaran hidup yang dapat saya ambil,dimulai dari kehidupan saya maupun kehidupan orang lain. Sekarang saya menemukan arti rumah kembali, rumah yang selama ini saya cari akhirnya ada. Dan saya menemukan jati diri saya sesungguhnya tidak lagi menjadi si pendiam seperti orang mati dan asik dengan dunianya sendiri. Saya menjadi orang yang periang, banyak mengenal baru dan belajar untuk membuka dunianya kepada orang lain. Terima kasih tuhan atas segala nikmatmu yang sangat berharga, dan membuat saya menjadi seseorang yang dianggap orang banyak. Dan, satu pintaku jaga orang-orang yang aku sayangi dan jangan hilangkan mereka dari kehidupanku.
Dan saya pun percaya cinta yang tulus akan dipertemukan dengan cinta yang tulus pula, saya pun ingin belajar untuk menjaga hati.
Mantuk raππ½
BalasHapusBanyak pelajaran yg dapat di detik huhuhu kerenn
BalasHapusCerita yg menarik π
BalasHapusMantull kaka
BalasHapus