NOVEL
ARVIO
Prolog
Aku hanya ingin menemukan rumahku yang hilang.
Rumah yang selama ini aku cari dan aku rindukan kehangatan didalamnya, yang membuat awal hariku selalu indah dan membuatku ingin segera pulang. Namun, semua itu tinggallah kenangan.
Kejadian itu, selalu terlihat jelas dalam memory ingatanku. Begitu sesak untukku menjalani semua kehidupan ini.
Kini, aku merasakan hidup seorang diri dengan penuh keasingan yang hanya ditemani oleh kesepian yang ada. Rumah yang dulu selalu membuatku nyaman sudah tidak berlaku lagi untuk sekarang.
Akankah rumah yang selama ini aku cari, bisa ku temukan? Atau malah membuatku semakin jauh untuk menemukan kembali?.
Aku, Viona Putri Rana akan menunggu rumahku kembali.
..............
CHAPTER 1
Pagi ini terlihat sama saja seperti pagi sebelumnya tetaplah sepi, hening, tak ada perubahan.
Kaki ku melangkah keluar rumah untuk pergi ke sekolah dan menunggu angkutan umum, sudah beberapa angkot yang kutemui terlihat penuh dan aku melirik kearah jam tanganku, memperlihatkan pukul 06.30 WIB dan lima belas menit lagi gerbang akan ditutup sementara tak ada angkot yang kosong.
“Arghh, bagaimana ini” kataku kesal. Ketika aku sedang menunggu angkot lagi ternyata ada sebuah motor yang berhenti didepanku, aku tak mengenalinya siapa tapi baju yang dia pakai sama denganku.
Lalu, dia membuka helm fullfacenya itudan berbivara kepadaku
“Woy lu anak SMA Rajawali kan?” katanya padaku, akupun menjawab “I-iiya” gugup.
“Yaudah buruan naik ke motor gue, bentar lagi gerbang ditutup”. Aku agak bingung dan takut karna tidak tahu mau berbicara apa. “ Woy, kok lu diem sih!! Buruan mau ga?! Kalo ga gue tinggal nih.” katanya kepadaku dengan nada yang kesal. “ E-ehh iyaiya mau” kataku, dari pada aku masih disini aku pasti terlambat, batinku.
Setelah itu, aku naik kemotornya dan dia memberikan helmnya kepadaku. Disepanjang jalan aku memikirkan siapakah dia, mengapa dia mau membantuku dan tak lama dari lamunanku ternyata kami telah sampai ke parkiran sekolah, lima menit lagi gerbang ditutup. Aku pun turun dan bernafas lega, lalu memberikan helm kepadanya.
“Terimakasih” kataku sambil menyodorkan helm dan menunduk, “ Kalo ngomong sama orang itu harus liat mukanya yang sopan bukannya nunduk, emang dibawah ada apasih sampe nunduk gitu, ada duit hah!”katanya dengan nada yang ketus.
Aku memberanikan diri menatapnya lalu tersenyum “Terimakasih atas tumpangannya, kalau begitu saya duluan” kataku dengan sopan. Aku sangat gugup dengannya tidak tahu kenapa, tapi disepanjang jalan siswa-siswi menatapku seperti sedang membicarakanku, tapi aku hanya bisa menunduk.
Tak lama kemudian akupun sampai didalam kelas, aku pun duduk dibangku ku dan pada saat itu Kayla dan Nadin datang menghampiriku, “ Aduhh, sumpah ya lu vio lo kok bisa berangkat bareng sama ka Arga? Kalian ada hubunga apa? Kok lo ga cerita sih sama kita.” Aku pun bingun mereka sedang membicarakan siapa, ka Arga siapa, aku dibuat mereka bingung. “Ka Arga siapa sih? Kalian bicara apa?” kataku bingung. “Eh eh ada guru datang” kata Adam si ketua kelas, “Vio pokoknya pas istirahat lo harus cerita kita gamau tau!” kata Nadin kepadaku, Aku benar-benar bingung mereka sedang membicarakan apa.
***
Disebrang sana, Arga memikirkan cewe yang tadi pagi. Entah mengapa cewe itu membuat Arga tertarik kepadanya, sebelumnya Arga tidak pernah merasakan sepenasaran ini terhadap orang asing terlebih itu perempuan. “Woy bro, kenapa ngelamun ohh gue tau pasti lo lagi mikirin cewe yang tadi yaa” goda Randi temannya itu, “Apaansi lo sotau banget sih lo orang gue lagi ga ngelamun”. “ Masaa, orang dari tadi gue panggilin lo diem aja” kata Panji “Apaan sih gue ga budek ya, orang lu pada baru manggil gue tadi” kata Arga. “Eh-ehh udah ah lu pada, intinya yang waras ngalah ajalahh”celetuk Agam. Mereka pun tertawa sambil sambil menggoda Arga.
Bel istirahat pun berbunyi, Vio, Nadin dan Kayla pun ke kantin mereka tetap membicarakan topik tadi pagi dan Vio baru tahu bahwa yang tadi pagi itu adalah Ka Arga dia adalah Most Wanted SMA Rajawali ini. Setelah dikantin ternyata mereka bertemu dengan gengnya Arga yaitu Panji, Randi, Agam yang terkenal genit suka menggoda para cewe-cewe dan Yuda dia hampir sama seperti Arga yang jutek, ketus, dingin tapi dia tidak separah Arga.
“Eh-ehh itu ada cewenya Arga lewat.” goda Agam, Arga pun melirik ke arah vio dan dia pun berkata “Dia bukan cewe gue”. Vio pun menunduk dan jalan melewati bangku Arga and the geng, “Kalo diliat-liat tuh cewe cantik juga ya” kata Randi, “Iya bro, terus kayanya tuh anak kalem deh” kata Panji, “Udah-udah sekarang mending kita makan dulu, gue udah laper” kata Yuda. Tapi entah kenapa mata Arga ingin meihatnya seperti ada daya tarik yang menyuruh untuk melihatnya.
Lalu bel masuk pun berbunyi, para siswa-siswi pun memasuki kelas masing-masing. Ada kelas yang guru masuk terus, ada yang free nampaknya tak asing lagi pada masa sekolah. Tak terasa waktu pulang pun tiba, para siswa-siswi berhamburan keluar sekolah ada yang bergeng-gengan ada yang berpasang-pasangan, yang jomblo pun ada hahaha.
“Vio lo mau pulang bareng gue ga? Tapi ntarnya ke rumah temen gue dulu ya” ucap Nadin, “Engga din, aku pulang sendiri aja ntar naik angkot” kataku. “Hm yaudah deh kalo gitu gue duluan ya gengs bye bye” ucap Nadin. “Eh Vio gue duluan ya udah dijemput, apa lo mau bareng gue aja?” kata Kayla, “Engga Kay, ntar aku pulang naik angkot aja”kataku, “Yang bener lo, udah bareng gue aja ya”, “Iya bener Kay, tiap hari kan aku naik angkot terus” kataku, “Hm yaudah deh gue duluan ya, hati-hati lo dijalan” ucap Kayla padaku.
Rasanya iri melihat yang lain dijemput oleh orangtuanya, terakhir kali aku merasakannya kelas 1 SMP tapi ah sudahlah mungkin ini sudah jalannya, batinku .
................
CHAPTER 2
Malam pun tiba, keheningan rumah semakin terasa. Tak ada lagi malam yang penuh tawa dan canda, tinggal kenangan saja yang tersisa. Pintu depan pun terbuka menampakkan Bang Kahfi yang baru pulang, dia nampaknya cape sekali. Aku pun mencoba untuk menghampirinya “Baru pulang bang?” kataku, “Iyalah lo juga liat kan” ketus bang Kahfi kepadaku.
Lalu dia pergi begitu saja ke kamarnya, rasanya sesak sekali melihat perlakuannya yang sekarang berbeda dengan yang dulunya. Jujur aku sangat merindukan kehidupanku yang dulu, aku tidak suka dengan kehidupan yang sekarang.
Aku pun kembai ke kamar, merebahkan badanku ke atas kasur. Aku mengingat masa-masa ku dulu, kalau aku ingin tidur pasti bunda memberikan segelas susu kepadaku dan bang Kahfi. Jika bang Kahfi tidak mau meminumnya bunda pasti memaksanya untuk minum, lucu sekali ketika mengingatnya sampai tak terasa cairan bening menetes dari mataku.
Aku mencoba untuk memejamkan mata dan mulai tertidur untuk tidak merasakan sesak ini.
***
Waktu menunjukkan pukul 06.10 WIB aku pun kaget lalu bergegas untuk mandi. Setelah siap semuanya, aku pun langsung berlari ke halte agar kebagian angkot dan waktu menunjukkan pukul 06.40 WIB sebentar lagi gerbang ditutup dan tidak ada angkot yang lewat. Aku pun panik dan gelisah. Dan, didepanku ternyata ada motor yang berhenti orang itu sama dengan kemarin dia menyuruhku untuk naik ke motornya “Woy buruan naik, bentar lagi gerbang ditutup”.
Aku pun langsung naik, dan motornya melaju sangat kencang sampai aku memegang tasnya dengan sangat kuat. Setelah sampai gerbangnya sudah ditutup, aku pun pasrah tingal menunggu guru yang piket datang saja. Tapi dia malah meyuruhku untuk naik keatas motornya lagi, “Loh kita mau kemana?” kataku bingung, “Udah gausah bawel, buruan naik cepet!” perintahnya padaku.
Aku pun menuruti perintahnya, lalu motornya berhenti disebuah warung dekat sekolah.
“Loh kok kita kesini?” kataku bertanya padanya, tapi dia hanya diam dan masuk kewarung tersebut dan gerakkan matanya meyuruhku untuk mengikutinya.
Setelah aku masuk, ternyata banyak anak yang berseragam ada disini sepertinya mereka bolos sekolah. “Mak, kopi biasa satu, lo mau apa?” tanyanya padaku, “e-ehh engga”, “Walahh, Arga ini siapa anak yang cantik kok malah dibawa kabur kesini sih” ramahnya bertanya pada Arga dan melihat pada aku, “Dia temen” kata Arga, sementara aku hanya menunduk malu saja.
Lalu, aku memberanikan untuk bertanya “Kenapa kamu bawa aku kesini?” tanyaku pada Arga. “Emang lo mau ketahuan sama guru terus nama lo dicatet dan lo dihukum mau hah?” ucap Arga,
“Emangnya dengan kita lari kesini gabakal kena hukum? Bukannya sama aja ya,sama-sama tetap telat?” tanyaku padanya, “Lo kalo ngomong bisa ga sih liat orangnya, lo tuh ga sopan tau kaya gitu!!”.
Aku hanya menunduk takut, lalu dia berkata “Gue minta maaf karna bentak lo tadi”. Aku pun mengangguk tapi masih tetap tertunduk. “Ayo kita balik ke sekolah, mak ini uangnya” kata Arga,
“Okee, sering-sering ya bawa si cantik kesini yaa” ucap Mak, tapi Arga hanya senyum saja.
Kami pun kesekolah tapi kami lewat gerbang belakang agar tidak ketahuan oleh guru piket kata Arga. Namun, sialnya gerbang belakang itu dikunci tidak bisa dibuka padahal biasanya pintu ini tidak dikunci mungkin sedah ketahuan ada siswa yang masuk sini.
“Ah sial dikunci lagi!” kata Arga kesal, aku pun bertanya “Lalu sekarang bagaimana?”.
“Sekarang buruan lo naik keatas bahu gue ntar lo panjat itu dinding” kata Arga, “Engga ah, aku gabisa manjat aku takut” kataku memundurkan langkah. “Udah lo gausah takut lo gabakaln jatuh selama ada gue” kata Arga, entah mengapa kerika Arga berbicara seperti itu aku merasa tubuhku menegang seketika dan ada perasaan nyaman serta mempercainya.
“Udah buruan naik, ntar lo diem dulu dipohon itu tungguin gue naik baru ntar lo turun, paham”. Aku pun mengagguk dan naik keatas bahunya, dengan hati-hati aku memanjatnya dan sampai dibatang pohon. Dari bawah Arga pun mulai memanjat dinding dan sampai dipohon yang aku duduki, “Lo tunggu sini gue turun duluan” ucapnya padaku, lalu akupun mengaggukkan kepala.
“Buruan lo loncat sini ntar gue tangkep lo dari bawah sini” katanya, “Engga ah aku takut, aku gamau” kataku ketakutan. “Yaelah udah buruan turun ntar keburu ada guru dateng” ucap Arga, “Engga Arga aku takut, aku gamau” ucapku sekali lagi kepada Arga, “Lo gausah takut, lo gabakalan jatuh selama ada gue, percaya sama gue” ucapnya padaku.
Seketika badanku kembali menegang, entah ada dorongan dari mana aku memberanikan untuk meloncat. Aku memejamkan mataku lalu meloncat kearahnya, dan tepat dia menangkapku. Mata kita bertemu dan seakan waktu terhenti, tapi tak lama aku pun tersadar lalu turun dari gendongannya itu.
Lalu, kami pun berjalan mengendap-ngendap supaya tidak ketahuan. Ketika sedang bejalan dari belakang ada suara deheman dan kami pun refleks berbalik, lalu kami pun ketahuan dan kena hukum.
CHAPTER 3
Sepanjang sekolah, baru pertama kali aku kena hukuman rasanya menjengelkan tapi bagaimana lagi ini sudah konsekuensinya. Kami pun disuruh membersihkan toilet dan gudang sekolah, yang pertama kami membersihkan toilet dulu. Aku kebagian membersihkan toilet wanita dan dia pria, ketika aku sedang membersihkan toilet ada dua orang cewek yang datang lalu mendorongku dari belakang.
Mereka menatapku seperti tidak suka, salahsatu diantaranya maju “Lo yang namanya Viola anak 12 Mipa 2 ?”katanya padaku, “I-iya, kamu siapa ya?” kataku gugup. “Apa! lo gatau gue?!! Gue itu primadonanya Rajawali asal lo tau dan gue ini pacarnya Arga!” bentaknya padaku lalu mendorong bahuku.
Aku hanya diam dan menunduk saja,lalu dia mendekat kearahku dan menjambak rambutku. “Ini peringatan buat lo, jangan pernah lo deket-deket sama pacar gue awas aja kalo lo masih deket-deket sama pacar gue abis lo!!” marahnya padaku. Aku hanya diam menahan rasa sakit ini, lalu dia pergi begitu saja.
Setelah selesai membersihkan toilet aku pun bergegas untuk membersihkan gudang untuk menyusul Arga, ketika aku keluar dari toilet dan berjalan menuju gudang tiba-tiba ada yang menarik tanganku. “Eh mau kemana lo, gue disini nungguin lo dan lo dengan enaknya pergi gitu aja, mau kabur lo” katanya kepaadaku, “Ohh, kamu dari tadi nungguin aku? Aku minta maaf ya jadinya kamu nunggu lama” kataku dengan perasaan yang tidak enak.
Lalu, dia menatapku memberi isyarat untuk mengikutinya. Kami pun sampai di gudang tersebut, kami pun masuk kedalamnya terlihat tidak begitu kotor jauh dari pikiranku tentang gudang sekolah. Setelah itu, kami langsung membersihkannya dari menyapu mengepel, lap debu-debunya hingga jadi super duper cling ajalahh.
“Lo mau minum ga?” tanya Arga kepadaku, “Ehmm, iya boleh” jawabku lalu dia pergi ke kantin sendiri. Aku pun bersandar pada dinding merasakan keheningan yang mengingatkanku pada kejadian dulu, aku sangat membenci keheningan.
Tak lama, Arga pun datang dan menyodorkan munuman dingin. “Terimakasih” ucapku yang dibalas deheman olehnya. “Nama lo siapa? dari kemaren kita bareng tapi gue gatau nama lo siapa” kata Arga, “Nama aku Viona Putri Rana, kamu bisa panggil aku Vio” jawabku sambil mengulas senyuman.
Entah mengapa selain bersama Kayla dan Nadin aku nyaman dengan Arga, aku tak pernah secepat ini beradaptasi dengan orang baru terlebih dengan lawan jenis. Apakah dia dapat membantu dalam aku menemukan rumah ku kembali? Ataukah dia yang akan menjauhkan dengan rumahku? Semuanya terlintas seketika didalam pikiranku.
***
“Nama lo siapa? Dari kemaren kita bareng tapi gue gatau nama lo siapa?”, lalu dia menjawab “Nama aku Viona Putri Rana, kamu bisa panggil aku Vio” jawabnya sambil mengulas senyuman.
Entah mengapa gue semakin ngerasa ada ketertarikan dengan cewe ini, gue sebelumnya gapernah setertarik ini dengan cewe. Ya dia emang cantik, tapi kalo cantik aja yang lain juga masih ada yang lebih cantik. Gatau kenapa ini cewe buat gue hampir gila, tiap hari gue kepikiran dia terus, ini anak pake pelet apa dah sampe buat kaya gini.
“Eh Vio, ayo ke kelas” ucap gue ke Vio tapi dia bales cuman dengan anggukan dan senyuman. Sumpah ya ini anak kenapa senyum terus, dia gatau apa susah banget nahan senyum ini woy.
“Yaudah sana gih lo masuk kelas” ucap gue, dan lagi dia ngebalesnya dengan anggukkan dan senyuman. Tanpa sadar gue pun tersenyum dan menuju kelas.
“Eits bro, gue denger katanya lo abis bersihin toilet sama gudang ya?” kata Panji, gue jawab dengan deheman aja. “Tumben banget lu, biasanya juga lu kabur “ kata Randi sebelum gue jawab eh sicurut Agam nyeletuk “Iyalah dia ga kabur orang ngeberisihinnya juga sama si Vio, ya ga bro”, “Berisik lo semua pada, gue mau tidur” kesal gue.
“Kayanya sikutub es itu mulai tumbuh bunga-bunga bermekaran nih” kata Agam, “Wihii abang Arga ahaaaa” kata Randi, yang lainnya pun ikut menggoda. “Ah berisik semua lu pada, ganggu orang tidur aja lo pada”.
Tak lama bel istirahat pun berbunyi, kami pun berjalan menuju kantin dan duduk ditempat biasa. Sudah tak asing lagi para cewek-cewek menatap kami seperti itu terlebih mendapat respon dari pada curut.
Setelah dikantin, gue nyari-nyari keberadaan Vio. Gatau kenapa sekarang gue jadi pengen ketemu dia terus, ga lama akhirnya gue ngeliat keberadaannya tapi gue cuman bisa diem dan ngeliatin doang gua gabisa nyamperin dia karna sekarang ego gue terlalu kuat buat gue lawan.
Tapi gapapa walaupun begitu gue tetep seneng yang pentig gue udah ngeliat senyumnya itu.
Bel masuk pun berbunyi anak-anak pada kembali kekelasnya termasuk Vio, dan ketika gue berjalan menuju kelas gue, ga sengaja gue ketemu Vio.
“Ntar pulang sekolah lo gue anterin” ucap gue kepada Vio. “E-eh gausah, ngerepotin ntarnya” ucapnya. “Justru kalo lo ga pulang bareng sama gue, lo jadi ngerepotin gue”, lalu dia terlihat kebingungan “Loh kok gitu? Kamu ini aneh sekali” sambil tertawa ringan.
“Pokoknya gue gamau tau ntar pulang lo bareng gue, tunggu dikelas lo jangan pulang duluan ntar gue nyusulin ke kelas lo” ucap gue, “E-eh t-tapi” ucapnya gugup, “Gue ga nerima penolakan” setelah berbicara itu gue langsung ke kelas.
Komentar
Posting Komentar